Seupil kisah anak rantau..

Diposting pada

 

source: www.kompasiana.com/sajakmusafir.com

halo sobat musinah.. semoga selalu berkah

Dalam kesempatan kali ini saya akan berbagi tentang cerita anak senasib sepenanggungan, senada.. seirama satu komando..paskibra kali ya…

Sesama anak rantau di butuhkan solidaritas dan rasa memiliki yang tinggi, saling berbagi, saling melindungi, saling menjaga.. sebanding dengan jiwa korsa milik abdi negara dengan  loreng – loreng ciri khas seragamnya..

Dengan demikian rasa sepi, sedih, rindu di rantauan tak begitu di hiraukan.. di rantauan kita di haramkan melakukan pemborosan maupun penipuan,,,buat apa gerangan? Untuk memastikan ada persediaan makan untuk sebulan, sebagai langkah antisipasi agar tetap bisa telpon babe atau hanya sekedar chat-an dengan gebetan.. beli sayur patungan, ke kampus boncengan, bahkan beli sop duren pun iuran… bukankah itu berlebihan? bukan… itu sebagai bentuk penghormatan kepada orang kesayangan yang sedang menaruh harapan besar di kampung halaman, rela menyisihkan hasil pekerjaan demi buah hati di perantauan..

itulah realita anak perantauan..

jangankan memikirkan mantan yang diam – diam di nikahin teman, tugas kami selalu selesai kami kerjakan hingga larut malam, sering mata yang memerah karena lelah, mungkin pertanda badan untuk merebah di kamar merah beralaskan karpet

terkadang kami kelelawar dengan kemampuan nokturnal (re:aktif dimalam hari) … tetangga kosan yang baru melahirkan terkadang di buat geram Karena musik yang kami putar di atas jam dua belas malam,  meluangkan waktu di taman jalan Raden intan atau sekedar bergurau di halaman kosan bisa jadi pilihan hiburan, bagi kami sudah cukup untuk  melupakan sementara penat seharian, sekaligus persiapan esok hari yang di pastikan penuh penat lagi…

masalah gizi jangan di tanya lagi, makan mi sudah jadi tradisi, teman di malam hari ketika mamang bakso sudah tidak mau kemari, maungkin Karena dia sudah mengerti bahwa kami sering basa – basi,  terkadang lebih ngeri lagi  “minta tambah nasi”.. bagaimana tidak rugi.. “aku menyesal kemari” gumam mang bakso yang bernama supri. Walaupun seperti itu, kami tidak berkecil hati.. sejak awal di tanamkan dalam hati bahwa kita sedang dalam pelatihan ABRI, walaupun sedikit memaksa..makan seadanya daun jati jadi piringnya minum langsung dari tekonya, maklum minim perabotan rumah tangga..

itulah realita anak rantau..

cerita di atas hanya fiktif belaka..

Gambar Gravatar
Beberapa orang lebih nyaman menyampaikan sesuatu lewat tulisan dibanding dengan lisan, mungkin saya salah satunya.

2 thoughts on “Seupil kisah anak rantau..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *